Rela,
Merelakan ...
Ku harus pergi meninggalkan kamu yang telah hancurkan aku ….
Sakitnya oh sakitnya .. Cintaku lebih besar dari cintanya
Mestinya kau sadar itu … Bukan dia tapi aku ….
Aku hanya berpikir, apakah hal yang aku impikan dapat aku miliki?
Aku mulai memikirkan hal ini saat aku bertemu dengan Ega. Aku mulai merasa canggung saat aku ada didekatnya, entah apa yang membuatku risau. Aku hanya berharap, suatu saat kerisauanku ini akan terjawab.
Aku Gee, lebih lengkapnya Geeska. Aku memulai keakrabanku dengan Ega sejak kelas 1 SMP. Kami memang terbilang sangat akrab tapi sejak Ega mulai akrab dengan Regi, dia sedikit mengacuhkanku. Saat di sekolah aku juga melakukan hal yang sama padanya, sedikit mengacuhkannya. Tapi lama-kelamaan aku sering melakukan hal itu, hingga akhirnya dia menelfon ke ponselku, tapi aku mengacuhkannya. Akhirnya dia datang ke rumahku.
Sial ….!! Ibuku sedang ada di rumah, jadi dengan mudahnya dia membuat alasan ingin bertemu denganku. Ibuku memang sudah akrab sekali dengannya, jadi tidak terlalu heran jika dia berani kerumahku.
“Kau kenapa? Seharian membiarkanku sendiri”. Dia memulai pembicaraan.
“Apa tidak salah?” Aku manjawab tanpa memandang wajahnya.
“Maksudmu apa?” Dia mulai menaikkan nada bicaranya.
“Sudahlah! Ada apa kemari!.” Aku mulai menatap matanya.
“Mmm … Aku ingin meminjam buku matematikamu”
Ya Tuhan apa tidak ada alasan yang lebih sepele dari itu? Katakan, aku ingin tahu alasanmu! Itu pun sudah lebih dari cukup untuk menenangkan hatiku.
“Maafkan aku.. Aku terlalu sibuk dengan yang lain, maaf teman.”
Tanpa ku perhatikan tiba-tiba Ega bicara seperti itu. Teman, apa hanya itu? Setidaknya aku lebih pantas untuk diberi gelar sahabat, yang tiap waktu mau mendengarkan segala keluh kesahnya. Tapi sudahlah, yang penting dia menyadarinya.
Keesokannya di sekolah, hubungan kami mulai membaik. Kami berjanji akan mengerjakan tugas sekolah bersama-sama sepulang sekolah. Akhirnya aku menunggu Ega di perpustakaan sekolah, tapi hingga 1 jam aku menunggu, dia tak juga datang. Akhirnya kuputuskan untuk pulang dan mulai tumbuh rasa kekecewaanku padanya. Aku berharap dia bisa kembali seperti dulu, lebih meluangkan waktunya untukku, pergi denganku.
Tapi, sudahlah! Aku hanya berharap untaian kataku ini dapat menjelma menjadi suatu kenyataan yang pasti tak akan berujung, bahkan menuai percabangan yang amat bercabang. Malamnya dia mengirimiku pesan, tapi aku tidak membalasnya. Aku ingin dia tahu betapa sakitnya menunggu dan menanti orang yang ia nanti. Ternyata dugaanku salah, aku pikir dia akan mengirim pesan beberapa kali.
Tapi, tidak!! Dia hanya mengirim 1 pesan padaku. Pertanyaanya juga sangat sepele, “Maaf, tadi aku lupa jika aku juga ada janji dengan Regi. Aku lupa tidak bilang padamu, maafkan aku. Balas jika kau memaafkanku”.
Tentu saja aku tidak sudi untuk membalasnya. Apa dia tidak memikirkan perasaanku, betapa bosannya aku menunggu sendirian di perpustakaan? Aku baru menyadari, jika dia begitu dan sangat egois. Tiba-tiba telfonku berdering…..
Tentu saja aku tidak sudi untuk membalasnya. Apa dia tidak memikirkan perasaanku, betapa bosannya aku menunggu sendirian di perpustakaan? Aku baru menyadari, jika dia begitu dan sangat egois. Tiba-tiba telfonku berdering…..
“Hallo”. Aku menjawabnya, dari Ega.
Aku tidak bisa jika tidak mengangkat telfonnya, biarlah aku jeaskan segala yang aku rasakan padanya. Sesekali dia juga harus mendengarkan ceritaku.
“Kenapa tidak membalas pesanku?”. Dia mulai mengoreksi diriku.
“Aku …. Tidak punya pulsa”. Alasan umum yang biasa aku katakan.
“Bisakah kau memahamiku sekali saja, aku berusaha untuk mengerti dirimu. Tapi kenapa kau seperti ini, aku kecewa padamu.”
Hey tunggu, bukannya aku yang seharusnya bicara begitu, dia mencuri kata yang ingin aku ucapkan.
“Apa hakmu bicara seperti itu! Apa kau hanya mempermainkanku? Kau fikir aku ini apa?”.
“Aku tidak pernah mempermainkanmu, kau justru sebaliknya!”.
Aku mulai menangis, aku tidak bisa menahannya. Ini terlalu sakit.
“Sudahlah aku muak denganmu!”.
Ku akhiri pembicaraan ini dan mencoba berpikir, langkah apa yang pantas untuk kuambil guna menyelesaikan semua ini.
Keesokannya, aku sama sekali tidak berbicara bahkan menatap Ega. Aku terlalu sakit untuk melihatnya. Tapi, saat jam istirahat dia mengajakku bicara di kelas.
“Apa ada yang ingin kau katakan? Mungkin tentang apa yang tengah kau rasakan saat ini?”
“Apa kau paham bagaimana perasaanku setelah kau mengatakan hal itu? Kau sudah berubah bahkan jauh berubah, aku tidak lagi mengenalmu seperti yang dulu”.
“Tapi ini memang aku, kau harus tahu siapa aku yang sebenarnya. Aku tidak bisa terus berbohong dan bersandiwara seperti ini, kau terlalu baik untukku”.
“Apa menurutmu kau juga tidak terlalu baik untukku?”.
“Aku hanya tidak bisa terus membohongimu, berusaha jadi baik di hadapanmu. Itu hanya akan membuat luka”.
“Tapi….. Aku terlanjur mencintaimu”.
Aku sudah tidak tahu dimana akal sehatku. Aku tidak bisa menyadari apa yang tengah aku katakana tadi. Tapi, itu membuatku merasa lega, jauh terasa lega serasa tanpa beban. Apa yang ku simpan akhirnya tercurah juga dan akhirnya Ega angkat bicara.
“Aku… Aku hanya ….”
“Aku… Aku hanya ….”
“Ega..!”.
Terdengar suara perempuan memanggil Ega, dia Regi. Ya Tuhan, Regi? Apa maksudnya? Apa aku di …. “Maaf, aku sudah dengan …”. Ega mencoba untuk bicara.
“Regi.. Aku bisa memahaminya”.
“Regi.. Aku bisa memahaminya”.
Aku mencoba mengatur pandangan dan perasaanku. Aku tidak mau jika air mataku jatuh tepat di depan mata Ega.
“Pasangan yang sangat cocok, semoga beruntung dengan cintamu yang sekarang ini”.
Aku pergi meninggalkan Ega, aku tidak tahu apa yang kurasakan saat ini. Sungguh sakit, sangat sakit. Apa dia bahagia dengannya sekarang? Hanya itu yang ingin aku tahu. Ternyata impianku tak berujung, aku ingin dimiliki olehnya. Apa itu salah? Apa aku tidak pantas untuknya? Apa karena aku memang tak ada di hatinya? Mungkin alasan ke-3 lebih tepat. Karena aku memang tak pernah ada di hatinya.
Aku pergi meninggalkan Ega, aku tidak tahu apa yang kurasakan saat ini. Sungguh sakit, sangat sakit. Apa dia bahagia dengannya sekarang? Hanya itu yang ingin aku tahu. Ternyata impianku tak berujung, aku ingin dimiliki olehnya. Apa itu salah? Apa aku tidak pantas untuknya? Apa karena aku memang tak ada di hatinya? Mungkin alasan ke-3 lebih tepat. Karena aku memang tak pernah ada di hatinya.
Apa aku hanya sekedar rela atau merelakannya? Menurutku aku tak akan pernah rela, aku tidak akan dan tidak akan pernah bisa rela. Rela adalah membiarkannya pergi tanpa ada rasa berat hati. Aku tidak bisa seperti itu, tahukah kamu jika aku hanya merelakanmu. Membiarkanmu pergi dengan rasa keterpaksaan yang amat dalam dan curam. Apa kau tahu aku menginginkanmu di sini, berharap bisa denganmu, walau hanya sekejap.
Tuhan buat dia mengerti dengan perasaan ini, rasa yang mungkin sulit untuk dipahami. Tapi izinkanlah aku untuk bahagia mezki tak bersama dia dan menjadikan dia sebagai bagian dari penghias cinta dalam hidup ini.
Aku Yang Tersakiti
Pernahkah kau merasa
Jarak antara kita kini semakin terasa
Setelah kau kenal dia
Aku tiada percaya teganya kau putuskan Indahnya cinta kita
Yang tak ingin ku akhiri
Kau pergi tinggalkanku
Tak pernahkah kau sadari
Akulah yang kau sakiti
Engkau pergi dengan janjimu yang telah kau ingkari
Oh Tuhan tolonglah aku
Hapuskan rasa cintaku
Aku pun ingin bahagia
Walau tak bersama dia
Memang takkan mudah
Bagiku tuk lupakan segalanya
Aku pergi untuk dia
By: Judika (Aku Yang Tersakiti)


0 komentar:
Posting Komentar