Tak Terbalas
Dan
izinkan aku memeluk dirimu ..
Sekali
ini saja ...
Tuk
ucapkan selamat tinggal ..
Untuk
selamanya ...
Dan
biarkan rasa ini bahagia ..
Untuk
sekejap saja ...
Masih ingat
kan sama lagunya Ungu yang mengharukan itu. Liriknya cocok sekali sama keadaanku
sekarang ini.
***
Cintaku pada Rangga yang hanya bisa aku impikan
dan tak akan bisa terbalaskan.
Doni (sahabatku) saat malam pesta ulang tahunnya.
Rangga 2 tahun lebih dewasa dari ku,dia merupakan anak band jadi tidak heran
jika dia terlihat keren. Setelah berjabat tangan Rangga bilang padaku bahwa dia
adalah kakak kelasku, dan sering bertemu denganku. Namun mengapa aku tak pernah
berjumpa dengan dia sebelumnya?
Aku
Nia, murid kelas X ajaran 2011-2012. Dari pertama kali aku bertemu Rangga di
pesta itu, aku merasa ada yang berbeda di dirinya, aku merasa nyaman di samping
dia dan aku ingin kenal lebih dekat lagi dengan dia. Apakah ini yang dinamakan
jatuh cinta pada pandangan
pertama
..?
***
Dua hari setelah pesta itu, di sekolah aku sering bertemu dengan Rangga. Saat dia melihatku, selalu senyum manis terurai di bibirnya. Disaat itulah aku merasa bahwa dunia ini indah, seindah bunga-bunga di taman yang sedang mekar. Senyum itu yang mampu menjadi penyemangat dalam hidupku. Tak ada orang yang memiliki senyum seindah dan semanis senyum Rangga.
“Hai
Nia”
Doni yang tiba-tiba muncul dari belakangku membuat aku terjaga dari
lamunan tentang Rangga.
“Hai juga
Don. Gimana kabarmu pagi ini?” sahutku.
“Ya beginilah aku, masih terlihat manis
seperti dulu.”
Dia menjawab dengan penuh semangat serta dengan kedipan mata
yang sudah biasa aku lihat dari sahabatku ini.
“Alhamdulillah
kalau kamu fine aj, karena aku tak
ingin melihat kamu murung seperti kemarin gara-gara patah hati”
Jawabanku
membuat Doni tertawa serta mencubit pipi kananku yang sudah menjadi
kebiasaannya, kami pun larut dalam canda tawa di teras depan kelas.
Ketika tawa Doni tiba-tiba berhenti, aku
merasa ada hal yang ingin dia bicarakan.
Aku pun
bertanya, “Ada apa Don?”
Doni
begitu terkejut ketika aku bertanya, sepertinya dia berfikir ternyata aku bisa
mengerti dengan jalan fikirannya.
Dengan
tenang dia mulai bercerita kepadaku. “Kamu masih ingat sama Rangga kan?” “Cowok
yang aku kenalkan ke kamu waktu pesta di rumahku.”
“Iya, aku ingat. Memangnya ada apa dengannya?” Tanyaku
penasaran.
“Dengar-dengar dia kemarin sudah punya kekasih lo.” Jawabnya dengan nada sindiran serta kedipan sebelah mata
kepadaku.
Mendengar
cerita itu, hatiku terasa sakit dan fikiranku melayang entah kemana. Melihat
aku yang tiba-tiba melamun Doni pun menepuk pundakku dan bertanya, “Kenapa kamu?
Jangan galau begitu..”
Saat itu aku mulai merasa bahwa Doni sebenarnya
mengerti tentang perasaanku terhadap Rangga.
“Enggak, aku cuma ingat tugas
Kimiaku belum aku kerjakan.” Jawabku dengan senyum palsu.
“Kamu jangan bohong, kita sudah sahabatan sejak
kecil. Jadi percuma saja, gak mempan tau!
” ejekan Doni membuat wajahku menjadi merah karena malu dan mulai salah
tingkah.
Perlahan
aku coba mengontrol diriku dan menjelakan semuanya pada Doni.
“Aku memang suka sama Rangga, tapi aku gak pernah berharap tuk bisa memilikinya
ato dia bilang suka sama aku.” “Aku jadi’in dia penyemangat dalam hidupku,
kamu tau sendiri kan semenjak aku berpisah
dengan Azhar. Aku gak bisa nikmati indahnya hidup ini, tapi setelah Rangga
hadir dalam kehidupanku. Dia mampu mengembalikan semangat dalam jiwaku hingga
hari-hariku terasa indah bila aku bertemu dengannya meski hanya melihatnya
saja”
Doni begitu serius mendengarkan curahan hatiku, itulah sebabnya mengapa
aku bisa mengeluarkan isi hatiku pada Doni, karena Doni adalah sahabat yang
selalu mengerti aku. Bahkan belum aku cerita tentang perasaanku terhadap
Rangga, Doni sudah mengerti.
Setelah
Doni memahami setiap kata yang aku jelaskan tadi, dia mencoba menenangkan
perasaanku, “ iya.. Aku bisa ngerti
sekarang, jangan sedih ya .. kan masih
ada aku.“ Kata-kata Doni memang sangat berarti, selalu bisa menenangkan hatiku.
Bel
pun berbunyi, kami bergegas masuk ke dalam kelas masing-masing, Doni bukanlah
teman sekelasku. Dia kelas XI sekarang, 1
tingkat di atasku dan 1 tingkat di bawah Rangga.
Hari-hari
telah berlalu, Ujian Nasional bagi kelas
XII pun telah usai. Itu berarti sebentar lagi Rangga akan meninggalkan sekolah
ini serta meninggalkan aku. Cintaku pada Rangga pun semakin lama, semakin membara
dan hanya aku pendam dalam hati. Cinta
yang tak mungkin terbalas karena Rangga telah memiliki seseorang yang berarti
dalam hidupnya lebih tepatnya seorang kekasih.
***
Sabtu
ini merupakan hari purnawiata bagi kelas XII, hari ini adalah hari dimana aku bisa melihat Rangga di
sekolah ini untuk yang terakhir kalinya. Mbak-mbak
kelas XII terlihat anggun dan cantik dengan gaun kebaya yang mereka kenakan
serta mas-mas kelas XII terlihat
gagah dan memukau. Terutama Rangga, dia sanggatlah tampan saat memakai jas berwarna
hitam itu. Dari jauh aku pandangi Rangga yang sedang tersenyum manis bersama
teman-temannya. Dia sempat melihat ke arahku dengan senyumannya, meski hanya
sekejam namun telah membuat hatiku merasa senang.
Di
samping Rangga duduklah seorang gadis cantik yang sungguh mempesona, dia adalah
kekasih Rangga. Kebahagiaan yang Rangga rasakan, kini mampu aku rasakan juga.
Jujur..
aku ingin memeluk Rangga untuk yang pertama dan terakhir kalinya serta
mengucapkan selamat tinggal untuknya. Namun apalah dayaku, aku tak bisa
melakukan semua itu karena diriku bukan siapa-siapa bagi dirinya. Aku hanya
bisa pandangi dia, yang semakin terasa menjauh dari pandanganku.
Didetik-detik
berakhirnya acara purnawiata, aku memilih berdiam diri di taman sekolah yang
sepi tanpa ada seorang pun karena yang pasti semua sedang menikmati acara
purnawiata. Itulah sebabnya mengapa aku memilih di taman, agar tak ada yang
melihatku menangis.
Di
taman, ternyata dugaanku memang benar tak ada orang kecuali aku disini, aku
menyandarkan bahuku di sebuah kursi taman. Matahari bersinar cerah di siang
ini, angin berhembus sepoi-sepoi hingga membuka memoriku saat pertama kali aku
bertemu dengan Rangga. Dia membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama dan dia
lah yang mampu membuat hari-hariku berarti.
Entah bagaimana hati ini jika aku
tak melihat sosok Rangga di depan mataku serta tak mampu melihat senyum
manisnya lagi. Dia datang dan pergi bagai angin, yang hanya sesaat dapat ku
nikmati. Namun namanya berbeda dengan angin, karena nama Rangga tetap dalam
hatiku dan tak mampu tergantikan oleh siapapun.
“Tuhan..
Aku ingin selalu melihat dia, seperti hari-hariku sebelumnya.” Rintihan dalam
hati yang mampu meneteskan air mataku.
| Tanpa ku sadari, Doni telah duduk di
sampingku. Entah darimana dia tahu kalau aku ada disini. “Jika kamu ingin menangis, menangislah...!!” Doni mulai meyakinkanku bahwa dia kan selalu menemaniku disaat senang maupun duka. Dia sangatlah mengerti aku, sungguh aku beruntung memiliki sahabat sepertinya. |
Kata-kata Doni tak sanggup aku balas, karena
sungguh berat bibir ini mengatakan kata-kata. Dalam benakku hanya ada Rangga, sungguh
aku tak sanggup menerima perpisahan ini.
Air
mataku terus menetes di pipi, aku sadari bahwa cinta memang tak harus memiliki.
Angin berhembus membawa suasana hatiku tak begitu larut dalam kesedihan. Dan
air mataku sedikit demi sedikit mampu ku redam, bayangan Rangga perlahan ku
relakan pergi. Di sampingku Doni masih diam sambil memegang mp3nya yang hanya
didiamkan saja, kemudian aku ambil mp3 itu dari tangannya. Lagu Ungu lah yang
menjadi pilihanku, dari lagu tersebut aku mendapatkan sebuah impian, impian
yang ku tujukan untuk Rangga.
”Aku akan
menyusul Rangga di Universitasnya, dimanapun dia kuliah.” “Akan aku lalui semua
rintangan yang ada. Demi Rangga, aku akan menyusulnya.”
Doni tersenyum ketika mendengar
perkataanku yang begitu nekat dan berkata
“Makanya belajar yang rajin.”
Aku
hanya bisa terdiam di pundak Doni dengan angan-anganku tentang impian yang
barusan aku katakan.
Sungguh
aku ingin mewujudkan semua itu.
Tuhan ...
Bantulah
hamba .
^^


0 komentar:
Posting Komentar